Posted: Maret 17, 2009 in Tak Berkategori
Air Terjun

Air Terjun

Posted: Maret 17, 2009 in Tak Berkategori
Puncak

Puncak

Posted: Maret 17, 2009 in Tak Berkategori
puncak radar

puncak radar

 

1.            FADHLAN, S     DAN       DARMAWATI

2.            BUSTANIL         DAN       L I Z A R

3.            HUSAINI            DAN       AKMALUDDIN

4.            FAUZI                DAN       NISA, D

5.            IRA NANDA       DAN       ANDRE

 

Pemilu Raya akan dilaksanakan pada tanggal 27 Agustus 2008 di kampus STMIK Abulyatama Aceh.

 

Informasi lebih jelas silahkan kesekretariatan BEMA STMIK 

=KARIES GIGI=

Posted: Agustus 14, 2008 in Tak Berkategori

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang Masalah

Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan yang optimal meliputi kesehatan fisik, mental dan sosial. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan dengan pendekatan pemeliharaan peningkatan kesehatan (promotion), pencegahan penyakit (preventive), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Untuk menunjang penurunan angka kesakitan ibu dan anak, upaya kesehatan gigi sebagai bagian dari upaya kesehatan secara keseluruhan menyelenggarakan upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut bagi ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia sekolah. Penyelidikan-penyelidikan telah membuktikan bahwa penyakit gigi terutama lubang gigi dan penyakit periodontal masih menyerang sebagian besar penduduk di berbagai Negara di dunia, baik Negara yang telah maju maupun di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Menurut survey yang dilakukan WHO. keadaan karies gigi di Indonesia cenderung meningkat. Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit masyarakat yang diderita oleh 90% penduduk Indonesia yang bersifat progresif dan ireversibel. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional pada tahun 1998 menunjukan bahwa keluhan sakit gigi menduduki tingkat ke 6 dari 16 keluhan kesehatan. Pekerjaan atau kegiatan sekolah terganggu karena sakit gigi rata-rata 3,86 hari/bulan.

Masalah utama kesehatan gigi dan mulut anak yang cukup banyak dihadapi adalah karies. Karies merupakan penyakit jaringan keras gigi (email, dentin, sementum) disebabkan oleh aktivitas jasad renik dalam karbohidrat yang dapat diragikan. Ditandai adanya peoses demineralisasi jaringan keras gigi diikuti kerusakan unsur-unsur organik. Pada umumnya keadaan kebersihan mulut pada anak usia sekolah lebih jelek dibandingkan orang dewasa, karena anak-anak lebih banyak serta lebih sering makan makanan dan minuman manis dan melekat. Pengetahuan, kesadaran dan kebiasaan orang tua dalam merawat kesehatan gigi anaknya sangat berpengaruh terhadap timbulnya kerusakan pada gigi.

Kurangnya perhatian terhadap gigi susu anak usia sekolah disebabkan pada umumnya orang beranggapan gigi susu tidak perlu dirawat karena akan diganti gigi tetap. Keadaan gigi sulung yang dijumpai di klinik biasanya sudah parah. Sehingga anak menderita sakit gigi dengan segala macam akibat yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Proses karies dan faktor resiko terjadinya karies gigi tetap dan gigi sulung tidak berbeda, namun demikian perlu dikaji melalui penelitian. Berdasarkan permasalahan di atas penulis ingin meneliti lebih jauh lagi tentang “Hubungan Pengetahuan Dan Tindakan Orang Tua Untuk Mencegah Karies Gigi Pada Anak Usia Sekolah di Sibreh Kabupaten Aceh Besar”.

 

B.     Penjelasan Istilah

Adapun beberapa istilah pada penelitian ini adalah :

         Pengetahuan adalah hal yang diketahui responden tentang pencegahan karies dengan mengajukan sejumlah pertanyaan tentang pencegahan karies pada anak.

         Tindakan adalah serangkaian kegiatan nyata yang dilakukan responden sehubungan dengan pencegahan karies gigi pada anak.

         Pencegahan karies adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya karies gigi.

 

C.     Tujuan Penelitian

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka penyusunan skripsi ini mempunyai beberapa tujuan yang ingin dicapai :

1.        Untuk mengetahui apakah ada Hubungan antara pengetahuan dan tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi pada anak usia sekolah di Sibreh Kabupaten Aceh Besar.

2.        Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam melakukan penulisan ilmiah.

3.        Untuk menambah sumber dalam perpustakaan Jurusan Tadris Biologi, serta dapat dipergunakan sebagai informasi bagi penelitian lebih lanjut.

4.        Dapat memberikan masukan dan informasi kepada orang tua tentang pencegahan karies gigi pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Sibreh Kabupaten Aceh Besar.

 

D.    Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya membutuhkan pembuktian secara empiris. Kebenaran hipotesis ditentukan oleh data-data hasil penelitian. (Suatu hipotesis akan diterima kalau bahan penyelidikan membenarkan, hipotesis penelitian ditolak bila kenyataan menyangkal).

            Adapun yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah : “Terdapat hubungan pengetahuan dan tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Sibreh Kabupaten Aceh Besar”.

 

E.     Metode Penelitian

  1. Rancangan Penelitian

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta, sifat-sifat sebab hubungan yang diselidiki. Rancangan penelitian ini bersifat field study (pengukuran lapangan). (Rancangan penelitian adalah rancangan yang dibuat oleh peneliti sebagai ancer-ancer kegiatan yang akan dilaksanakan). Atas dasar tersebut, penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi pada anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Sibreh Kabupaten Aceh Besar.

 

  1. Populasi dan Sampel

Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua (Bapak atau Ibu) yang mempunyai anak usia sekolah di wilayah kerja Puskesmas Sibreh Kabupaten Aceh Besar, yang berjumlah 80 Kepala Keluarga, sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus:

n    =   

n    =    Jumlah sampel

N   =    Jumlah populasi

d    =    Tingkat kepercayaan (0,5)

 

Dengan demikian, maka jumlah sampel yang diteliti adalah sebanyak 44 orang.

 

  1. Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan deskriptif dengan Instrumen pengumpulan data adalah kuisioner. Kuisioner tersebut diedarkan langsung kepada responden dalam bentuk tertutup, artinya responden diberi kesempatan untuk memilih jawaban yang telah di sediakan.

Kuisioner yang digunakan diberikan bobot empat (4) option yang menjadi alternative jawaban dengan ketentuan :

a.       Untuk memilih option (a) diberi bobot 4 (sangat baik)

b.      Untuk memilih option (b) diberi bobot 3 (baik)

c.       Untuk memilih option (c) diberi bobot 2 (sedang)

d.      Untuk memilih option (d) diberi bobot 1 (kurang baik)

Penetapan Kuisioner tertutup ini sesuai dengan pendapat (Bila item pertanyaan pada Kuisioner juga disertai kemungkinan-kemungkinan jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban yang dinilai paling sesuai).

 

  1. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisa data hasil penelitian ini terlebih dahulu diperiksa mengenai kelengkapan isi, kemudian akan dimasukkan ke dalam rumus statistic yaitu Korelasi Product Moment, dengan rumus sebagai berikut :

r XY  =   

Keterangan :

r XY  =    Koefisien korelasi antara pengetahuan dan tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi pada anak usia pra sekolah di wilayah kerja Puskesmas Sukamakmur, Kabupaten Aceh Besar.

X      =    Nilai pengetahuan orang tua untuk pencegahan karies gigi

Y      =    Nilai tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi.

x       =    Deviasi Nilai pengetahuan orang tua untuk pencegahan karies gigi.

y       =    Deviasi Nilai tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi.

∑x2   =    Deviasi Nilai pengetahuan orang tua untuk pencegahan karies gigi yang dikuadratkan.

∑y2   =    Deviasi Nilai tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi yang dikuadratkan.

∑xy   =    Jumlah hasil perkalian antara deviasi nilai pengetahuan dengan deviasi tindakan orang tua untuk pencegahan karies gigi pada anak usia pra sekolah.

Rumus korelasi product moment mempunyai ketentuan bahwa : jika harga rhitung>rtabel pada taraf signifikan 5% maka hipotesis alternatif (Ha) diterima. Sebaliknya jika harga rhitung<rtabel pada taraf signifikan 5% maka hipotesis alternatif ditolak.




               Depkes RI, Pedoman Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Pukesmas, (Departemen Kesehatan RI. Jakarta. 2000), Hal : 5-10.

               ———,  Pedoman Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Pukesmas, (Direktorat Pelayanan Medik Kesehatan Gigi. Jakarta . 1999)

               ———,  Pedoman Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Pukesmas, (Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 2000), Hal : 5-10.

               ———-,  Pedoman Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Pukesmas, (Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 1996), Hal : 5-10.

               Depkes RI,  Pedoman Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut Pukesmas, (Departemen Kesehatan RI, Jakarta. 2000), Hal : 5-10.

               Sally Joyston, Edwina A.M, Dasar-Dasar Karies Gigi. (Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 1992)

              Suwello IS, Karies Gigi Pada Anak Dengan Berbagai Faktor Etiologi Kajian Pada Anak Prasekolah,  (EGC. Jakarta. 1992), Hal : 17-23..

              Hadi, Metodologi Research Jilid 3, (Yogyakarta: UGM Press. 1982)

              Nasir, M,  Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia. 1988)

            Waluyo, Penilaian Pengajaran. (Jakarta, Universitas Terbuka. 1998)

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan yang terbentuk pada pelajar dibangun oleh dirinya sedikit demi sedikit, kemudian diperluas melalui pengalaman dan pendidikan. Pengetahuan tidak dapat ditransfer secara serta merta oleh guru kepada pelajar. Pengetahuan juga bukan merupakan sekumpulan fakta-fakta, konsep atau kaedah yang siap untuk digunapakai dan diingat. Tetapi, pelajar sendiri harus membangun sendiri pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, pengajaran dan pembelajaran akan bermakna bagi pelajar apabila guru mampu mengajarkan bagaimana cara belajar, bagaimana cara berfikir, bagaimana cara menyelesaikan masalah dan membuat keputusan dan bagaimana memotivasi mereka untuk belajar. Tidak sepatutnya, pelajar bersusah payah menghafal sekumpulan konsep padahal bagi dia konsep itu tidak difahaminya. Sehubungan itu, kajian ini mencoba mengkaji kesan penggunaan peta konsep terhadap peningkatan kemahiran berfikir. Sehingga diharapkan terlahir sekolah yang memiliki budaya berfikir dan beramal, terutamanya bagi para guru memiliki wawasan dan kemahiran dalam memilih dan menggunakan strategi pengajaran yang sesuai.

Kemungkinan penyebab rendahnya hasil belajar yang dicapai siswa, diantaranya membudayanya belajar hafalan yang dilakukan siswa menjelang diadakan ujian. Siswa belum biasa belajar bermakna, dimana konsep-konsep baru dapat dihubungkan sehingga dengan konsep-konsep yang sudah ada atau sudah dimiliki, sehingga kemudian siswa terkaitan antar konsep. Salah satu alat pembelajaran yang berdasarkan belajar bermakna peta konsep.

Peta konsep merupakan suatu teknik yang memberikan gambaran dua dimensi mengenai struktur pengetahuan siswa dalam disiplin ilmu. Peta konsep merupakan suatu jaring-jaring pembelajaran yang menunjukkan konsep apa saja yang perlu dipelajari siswa dan bagaimana keterkaitan konsep-konsep tersebut.[1]

Sebagai alat pembelajaran, peta konsep membantu siswa aktif berpikir untuk memusatkan pada sejumlah ide-ide pokok (berupa konsep-konsep) dari satu pokok bahasan.

Penggunaan peta konsep bagi siswa  adalah :[2]

  1. Untuk mengeksplorasi apa yang telah dikctahui oleh siswa,
  2. Memberikan arahan pembelajaran,
  3. Membantu mengekstraksikan arti kerja laboratorium atau studi lapangan,
  4. Membantu membaca materi dari buku pelajaran,
  5. Membantu siswa mencapai hasil pembelajaran yang berkualitas tinggi serta bermakna, karena membantu siswa mengingat informasi dan melihat keterkaitan antar konsep dan,
  6. Membantu siswa menggabungkan ide yang satu dengan lainnya.

 

Peta konsep bersifat idiosinkratik, maksudnya bermaknaan konsep-konsep itu  khas bagi setiap orang. Tidak ada dua peta konsep yang sama persis karena setiap peta  yang dibuat oleh siswa menunjukkan pengertiannya yang unik dalam bidang  pengetahuan. “membuat  informasi lebih mudah dimengerti dan diingat kembali, dan, memaksimalkan momen belajar”.[3]

Metode mencatat yang baik membantu siswa mengingat perkataan dan bacaan,  meningkatkan pemahaman terhadap materi, dan memberikan wawasan baru. Pola pikiran (Mind Mapping) memungkinkan terjadinya semua hal itu. Metode peta konsep pertama sekali dikembangkan oleh Tony Buzan, Kepala Brain Foundation. Menurut Tony peta pikiran (peta konsep) adalah “metode mencatat kreatif yang memudahkan siswa mengingat banyaknya informasi Setelah selesai, catatan yang dibuat siswa membentuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan, dengan topik utama direngah-tengah dan sub topik dan perincian menjadi cabang-cabangnya.[4]

Penerapan metode peta konsep yang dilakukan guru dalam pembelajaran membantu siswa mengingat pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari. Oleh karena itu siswa tidak perlu membuat catatan selengkap mungkin, tetapi cukup membuat informasi (konsep) penting dari materi pelajaran.

Kenyataan, jarang sekali guru menggunakan peta konsep dalam melakukan  pembelajaran, Sehingga siswa harus menghafal materi pelajaran secara keseluruhan. Mengapa tidak mencoba menempatkan pola pikir anak menjadi sistematis dengan membuat peta konsep yang mudah untuk dipaharni anak. Dengan demikian siswa akan  mudah untuk mengingat pelajaran, karena dia tidak harus menghafal setiap kata tetapi cukup konsepnya saja.

Berdasarkan penelitian awal  di SMP Negeri l3 Banda Aceh di diperoleh gambaran bahwa pembelajaran di kelas khususnya pelajaran biologi siswa kurang aktif. Kurang aktifnya siswa disebabkan karena pembelajaran yang dilakukan guru kurang dapat memotivasi siswa untuk belajar. Guru lebih banyak menerangkan pelajaran sementara siswa hanya mendengarkan sambil mencatat.

Berdasarkan latar belakang masalah yang penulis paparkan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Metode Pemebelajaran Peta Konsep Pada Materi Sistem Pencernaan di SMP Negeri l3 Banda Aceh.”

 

B.     Penjelasan Istilah

Untuk menghindari kekeliruan dan lebih mengarahkan pembaca dalam memahami judul skripsi ini penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa istilah yang terdapat dalam judul tersebut. Adapun istilah- istilah yang perlu di jelaskan adalah sebagai berikut:

1.      Metode

Artinya suatu cara atau teknik mengajar yang disusun secara sistematik dan logik yang ditinjau dari segi hakekat belajar. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru salah satunya dengan cara membuat skema-skema pokok bahasan yang disebut dengan peta konsep.[5]

2.      Peta Konsep

Artinya metode mencatat kreatif yang memudahkan siswa mengigat banyak informasi. Setelah selesai mencatat,yang siswa buat membentuk sebuah pola gagasan yang saling berkaitan. Peta konsep terbaik adalah peta konsep yang warna warni dan menggunakan banyak gambar dan simbol.[6]

3.        Sistem Pencernaan

Artinya tersusun atas mulut lambung, usus besar, proses usus dan anus.[7]

 

C.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka yang menjadi permasahan dalam penelitian ini adalah : Apakah dengan menggunakan metode peta konsep, prestasi belajar siswa pada pelajaran biologi sub konsep sistem pencernaan akan meningkat.

 

D.    Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang masalah penelitian ini mempunyai beberapa tujuan yang ingin dicapai adalah :

1.      Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran biologi dengan cara menggunakan metode pembelajaran peta konsep.

2.       Merubah perilaku belajar siswa, yang mana siswa bersifat pasif menjadi aktif dalam belajar sehingga dapat membantu siswa memperoleh nilai yang baik.

 

 

 

E.     Postulat dan Hipotesis

1.      Postulat

Bertitik tolak pada latar belakang masalah di atas, maka penulis perlu mengemukakan beberapa postulat yang kedudukannya sebagai dasar pemikiran dalam suatu wilayah. Winarno Surachman mengemukakan bahwa: “ Anggapan dasar (postulat) yang menjadi tumpuan dasar segala pandangan dan kegiatan terhadap masalah yang dihadapi dalam suatu penelitian. Postulat ini menjadi titik pangkal, di mana dengan adanya postulat ini tidak lagi menjadi keragu-raguan penyelidik”.[8]

Adapun postulat (anggapan dasar) dalam masalah ini adalah: Penerapan metode peta konsep lebih baik daripada metode tanya jawab.

2.      Hipotesis

Berdasarkan anggapan dasar di atas, maka yang menjadi hipotesis (dugaan sementara) adalah : Penggunaan metode peta konsep pada meteri sistem pencernaan di SMP Negeri 13 Banda Aceh belum optimal. 

 

F.      Metode Penelitian

1.      Rancangan Penelitian

Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis dan faktual mengenai fakta-fakta, sifat-sifat sebab hubungan yang diselidiki. Rancangan penelitian ini bersifat field study.[9] Atas dasar tersebut, penelitian ini untuk mengetahui metode peta konsep lebih baik daripada metode tanya jawab pada siswa SMP Negeri 13 Banda Aceh.

 

2.      Populasi dan Sampel

Populasi adalah “Keseluruhan objek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang dapat mewakili keseluruhan populasi yang ada”.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas 8 di SMP Negeri 13 Banda Aceh yang berjumlah 104 siswa. Berdasarkan populasi di atas maka yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah 30% dari jumlah populasi yaitu 31 siswa pada kelas 82 yang terdapat dalam SMP Negeri 13 Banda Aceh.

 

3.      Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode postes dan prites dengan dua perlakuan tanpa diulang. Perlakukan pertama adalah proses pembelajaran biologi dengan metode peta konsep, sedangkan perlakukan kedua adalah peroses pembelajaran pokok bahasan yang sama dengan metode prites. Instrumen yang digunakan adalah Satuan Analisis Pembelajaran (SAP), Rancangan Pelajaran (RP), Peta Konsep dan Alat Evaluasi.

Data dikumpul melalui langkah-langkah sebagai berikut : (1). Sampel siswa dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. (2). Pada kelompok eksperimen dilakukan proses pembelajaran biologi metode peta konsep, sedangkan pada kelompok kontrol dilakukan proses pembelajaran dengan pokok bahasan yang sama dengan metode tanya jawab. (3). Setelah proses pembelajaran selesai dilakukan, pada kedua kelompok tersebut dilakukan test dengan menggunakan soal dan waktu yang sama.

 

4.      Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian ditabulasi dan selanjutnya dihitung persentase jawaban yang diperoleh dengan rumus sebagai berikut :

.  [10]      

Keterangan :

P = Angka persentase

F = Jumlah responden yang memilih salah satu jawaban setiap soal

n = Jumlah seluruh responden

 

Menginterprestasikan perolehan nilai prosentasi untuk menentukan nilai kualitatif kepada standar nilai (skala sikap) sebagai berikut :

a.        Jika nilai P = 76% – 100%, berarti sangat baik.

b.       Jika nilai P = 56% – 75%, berarti baik.

c.        Jika nilai P = 40% – 55%, berarti kurang baik

d.       Jika nilai P = Kurang dari 40%, berarti tidak baik. [11]


[1] Susilo, Belajar dan Pembelajaran Yang Efektif. (Jakarta. Rineka Cipta. 1998) Hal : 47

[2] Suhendra. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Dengan Pembelajaran Peta Kensep  (CAR). (Jakarta : Buletin Pelangi. 1998) Hal : 67

[3] Bobbi Deporter, et, al. Quantum Teching, Memperaktekan Quantum Learning di Ruang Kelas. (Bandung : Kaifa 2002)  Hal : 175.

[4] Bobbi Deporter, et, al. Quantum Teching, Memperaktekan Quantum Learning di Ruang Kelas. (Bandung : Kaifa 2002) Hal : 175

[5] Lukman, Kamus Bahasa Indonesia. (Jakarta, Balai Pustaka 1995) Hal : 652

[6] Buzan, Model  dan Pendekatan Dalam Belajar. (Jakarta : Gramedia, 1993) Hal : 35

[7] Karnoto, B.K. IPA Biologi SLTP Kelas 2. (Jakarta : Erlangga. 1995) Hal : 15

            [9] Nasir, M,  Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988) Hal : 20

[10] Sudijono, A, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hal. 40.

 

[11] Arikunto, S, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hal. 246.